Things I Wish I Was Good At

I’m trying to write more. Berhubung sudah terlanjur menghidupkan kembali blog ini, kenapa ngga nulis lebih banyak. Problem is, mencari ide mau nulis apa lagi itu ternyata tidak semudah itu.. so I’ve been looking and collecting writing prompts. Salah satunya, yang sepertinya cukup menarik dan bisa berguna juga untuk self-development adalah menulis tentang hal-hal yang gue ingin bisa kerjakan, dan bukan hanya bisa, tapi juga pandai dalam hal tersebut. So here goes..

Making music

Entah bermain instrumen, atau produce music by any other means. I love listening to music, and I love finding good music. Sebagai orang yang sangat visual, gue selalu berpikir..

Wouldn’t it be fun if we have soundtracks in our real life?

Kalo ngebayangin hidup kita adalah film, seru kan kalo di setiap moment penting di hidup kita ada soundtrack yang sesuai. Kadang suka iri sama orang yang kalo lagi galau bisa langsung ambil gitar terus genjreng. Apalagi belum lama ini, Zedd merilis lagu produksinya yang digunakan sebagai soundtrack serial barunya National Geographic yang bertajuk One Strange Rock. Lagu ini menurut gue berhasil membuat serial dokumenter yang kayaknya hanya menarik untuk kelompok tertentu, jadi epic dan bisa menarik untuk kalangan lainnya.

dengerin, dan resapi

Gimana sih rasanya, menyentuh orang lain dengan lagu yang lo buat sendiri? I will never know, karena gua sama sekali ga bakat bermusik. Kayaknya koordinasi tangan kanan sama kiri gue nggak bagus, gitu. Apalagi sama kaki.

I can sing, sure, semua orang bisa nyanyi. Cuma masalahnya nyanyinya bagus apa enggak, HE HE. Tapi to make music, and to make a good one? I think you need to have something in you to do that.

Baking

It’s something that you can easily learn, sure. Gue pengen banget bisa lihai bikin kue (apa sih padanan kata bahasa Indonesia untuk baking? I’m not sure). Gue tau, bikin kue itu sebenernya tinggal ikutin instruksi, udah pasti jadi selama lo ga improvisasi di luar garis kewajaran dan kewarasan yang aneh-aneh. Dengan ikutin step dan takaran di atas kertas, udah pasti hasil dan tampilannya akan sama. Tapi maksud gue bukan itu.

Gue pengen bisa, saat gue lagi pengen aja makan brownies, atau cake pops, atau black forest, bikin langsung tanpa harus cari resep dan ikutin instruksi dulu. Gue pengen bisa bikin kue di luar kepala. Dan terlebih, gue pengen bisa kreasiin kue gue sendiri.

I know I can achieve this by doing a lot of practice. Mungkin itu kenapa gue nulis artikel ini, sebagai pengingat untuk diri sendiri bahwa ada kok harapan-harapan gue yang bisa gue capai dengan sedikit lagi kemauan.

Forgiving and forgetting things

Ignorance is a bliss. Gue adalah tipe orang yang sering saat bengong, tiba-tiba kebanjiran memori memalukan di masa lampau dan ended up cursing myself for my past doings.

oh-boy-oh-boy-time-to-do-some-sleep-but-2732261

literally me

Trait ini juga bikin gue susah lupa kalo orang pernah salah atau menyakiti gue in anyways (kalo orang laen inget, kalo diri sendiri lupa.. HE HE). Yang berujung meski gue memaafkan orang tersebut, gue suka susah menerima kalo dia mungkin gak akan berbuat hal yang salah lagi.

Trait ini juga membuat gue sering susah memaafkan diri sendiri dan tak jarang mengutuki bahkan membenci diri sendiri untuk kesalahan-kesalahan gua di masa lampau.

Self-love itu sulit.

Jadi gue sangat ingin bisa lebih jadi pelupa dan tentunya pemaaf. Meski dulu gue selalu beranggapan bahwa memaafkan boleh – lupa jangan, dewasa ini gue sadar bahwa sulit melupakan hanya akan menyusahkan diri sendiri. Karena dengan susah lupa, lo jadi bawa baggage yang banyak kemanapun pergi. The ugly memories linger, dan seringkali creeps out di waktu-waktu yang gak tepat.

Kenapa artikel ini jadi dark begini ya, sejak kapan?

Anyway, pokoknya gitu. Forgiving and forgetting things (or people) are one of those things I wish I was good at.

Berteman

Banyak yang lupa, kalau pandai berteman itu anugerah. Gue orang yang ambivert dan cenderung introvert. Gue susah deket sama orang, apalagi in large groups – gue ga akan bisa approach. Tapi, kalo udah deket, I will give anything if you ever need it from me.

Dulu, kekurangan ini sangat kerasa karena berada di lingkungan sekolah dan kuliah tentunya membutuhkan kemampuan berteman untuk bisa “bertahan hidup”. Tapi kayaknya hidup pertemanan gue berenti sampe disitu, karena sejak gue kerja ga banyak temen gue yang bertambah.

Gue punya temen di tempat kerja, tapi gue gak consider mereka tier 3 gue, apalagi tier 2 (karena tier 1 adalah keluarga tentunya). Buat gue mereka sebatas kolega, makanya gue nggak pernah ngerti sama orang yang bilang susah resign karena temen-temennya di kantor. Never had that difficulty so far.

I’m not good at making friends. Susahnya lagi, untuk orang-orang terutama kawanan betina, seseorang yang gak pandai berteman itu bisa dijauhi dan dianggap aneh, alien, serupa pembunuh berantai. Bagi kawanan betina pada umumnya, betina lain yang kurang suka dan pandai berbaur, suka menyendiri, pokoknya berbeda lah, merupakan target empuk pengucilan dan bahan ngomongin di belakang. Dianggep sombong lah, merasa gak 1 level, dan lain-lain.

Gue yang udah dasarnya susah berteman, biasanya jadi tambah males untuk berteman karena adanya kondisi ini, dan malah bisa bodo amat sama sekali. Pada saat tertentu, hal ini tentu gak merugikan siapa pun, baik gue atau mereka (mungkin buat mereka malah jadi ada bahan obrolan gitu). Tapi on certain times, bisa bikin gue jadi susah. Yang namanya pekerjaan, tentunya kadang butuh basa-basi dan jilat dikit-dikit. Gue jadi susah, karena disaat gue harus basa-basi sama orang yang gue gak kenal ato kenal deket, gue jadi kicep dan awkward, which makes everything even worse.

Besar kemungkinan ini kenapa, temen tier 2-3 gue bisa dihitung pakai jari. Dan mostly consist of friends from junior and senior high school, yang udah kenal luar dalem selama lebih dari 9 bahkan 10 tahun.

Gue pengen bisa lebih pandai dalam berteman, or at least basa-basi. Kenapa? Karena manusia seharusnya makhluk sosial, kayaknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *