Things I Learn from Bunny Girl Senpai

Gue baru aja menyelesaikan satu anime berjudul Rascal Does Not Dream of Bunny Girl Senpai (selanjutnya kita sebut sebagai Bunny Girl Senpai aja biar pendek wkwk). Ada di netflix, bukan anime baru, cuma gue aja yang baru sempet nonton sampe abis (season 1). Anime ini ada novel dan manganya, tapi animenya lebih jauh progres ceritanya dari manga karena adaptasinya langsung dari novelnya.

Mai dan Sakuta

Plot manga ini berpusat tentang puberty syndrome yang dialami seorang anak SMA bernama Sakuta Azusagawa dan cewek-cewek di sekitarnya. Yaa.. semi-semi harem gitulah meskipun ga semua cewek di manga ini suka sama si Sakuta.

Yang gue suka dari manga ini, dia nyempilin berbagai istilah dan teori filosofis menarik, mirip sama Psycho-Pass gitu. Gue suka banget kalo nonton anime yang punya subtopik kaya begini, karena bikin gue jadi nyari tau dan wawasan jadi lebih luas. Apalagi, kalo bahasan ini masuk seamlessly ke jalan ceritanya – such orgasmic watching experience wkwk.

Berikut adalah dua teori yang menurut gue menarik dan akhirnya gue pelajari dari Bunny Girl Senpai season 1.

SPOILER ALERT – Jangan ngelanjutin baca kalo belum namatin serial ini!

Schrödinger’s Cat

In the first couple episodes, cerita Bunny Girl Senpai berpusat di puberty syndrome yang dialami oleh Mai Sakurajima atau kita sebut saja sebagai Mai. Mai mengalami puberty syndrome dimana dia tidak terlihat oleh sekitarnya, kecuali beberapa orang teman sekolahnya, salah satunya adalah Sakuta.

Ini adalah awal interaksi antara Sakuta dengan Mai, saat Sakuta ketemu Mai yang lagi keliaran pake bunny girl costume di perpustakaan sekolah (seriously). Long story short, ternyata puberty syndrome yang dialami Mai disebabkan oleh perasaan “ingin lenyap” yang dirasakan Mai saat ia dipaksa untuk berpose pakai baju renang sama ibu dan agencynya (bedebah, I know).

Saat Sakuta curhat ke Futaba, Futaba bilang puberty syndrome yang dialami Mai bisa dianalogikan sebagai fenomena teori Schrödinger’s Cat. Apaan tuh?

Sumber: Google

Schrödinger’s Cat adalah sebuah teori eksperimen yang dicetuskan oleh Erwin Schrödinger, seorang ahli fisika kuantum pada jamannya. Teori ini utamanya membahas soal eksistensi makhluk hidup saat dia sedang diobservasi oleh makhluk hidup lainnya, dan eksistensi makhluk yang sama saat tidak ada yang mengobservasinya.

Eksperimen ini dilakukan dengan mengobservasi sebuah kotak tertutup yang berisi zat radioaktif, Geiger counter, kucing, sebuah palu, dan sebotol racun. Singkatnya, pancaran radioaktif akan mengaktifkan Geiger counter, yang kemudian akan memicu jatuhnya palu menimpa botol racun yang kemudian akan membunuh si kucing.

Teori ini terkenal karena menurut ahli fisika, atom pada radioaktif berada dalam 2 state sekaligus; ada dan tidak ada, yang disebut juga dengan superposisi.

Terus Kenapa? Bingung? Saya juga.

Diluar dari konteks Schrödinger’s Cat-nya sendiri, Futaba punya cara sendiri untuk menjelaskan ke Sakuta apa yang ia maksud saat ia menganalogikan puberty syndrome Mai sebagai fenomena Schrödinger’s Cat.

Menurut Futaba, saat kotak eksperimen Schrödinger’s Cat belum dibuka, maka kucing di dalamnya berada dalam 2 state sekaligus: hidup sekaligus mati. Hal ini terjadi karena tidak ada yang mengobservasi kucing di dalam kotak itu secara langsung, sehingga ada 50:50 chance kucing di dalamnya hidup atau mati, yang membuatnya berada dalam 2 state sekaligus.

Orang yang mengobservasi kotak tertutup tersebut baru akan mengetahui kondisi kucing setelah membuka dan melihat secara langsung kucing di dalamnya. Ini yang menurut Futaba terjadi pada Mai.

Menurut teori Futaba, keinginan Mai yang sangat kuat untuk lenyap dari pandangan orang-orang membuatnya hanya eksis di pandangan orang-orang yang memang memperhatikannya saja, salah satunya Sakuta dan Futaba sendiri. Sampai ada hal atau kejadian yang dapat memaksakan eksistensi Mai ke dalam pandangan orang lain, maka Mai akan tetap “tidak ada”.

Singkat kata, Futaba berpendapat bahwa seseorang hanya akan ada/eksis jika diobservasi oleh orang lain.

Arc Mai diperparah dengan perkembangan cerita dimana orang-orang yang tadinya mengingat eksistensi Mai perlahan melupakannya setelah tidur, bikin Sakuta bela-belain begadang ada kali 3 malem, demi gamau ngelupain Mai.

Akhirnya, puberty syndrome Mai berhasil terselesaikan (kok terselesaikan sih? Ya pokoknya gitulah) saat Sakuta tiba-tiba menyatakan rasa sukanya ke Mai dengan cara teriak di tengah-tengah lapangan sekolah kaya orang bego. Meski bego, cara ini ternyata efektif karena dengan begitu Sakuta telah memaksakan orang lain untuk menyadari kembali eksistensi Mai, yang akhirnya bikin semua orang inget lagi sama Mai.

Laplace’s Demon

Di arc berikutnya yaitu arcnya Tomoe Koga, keluar lagi istilah baru yaitu Laplace’s Demon. Kalo sebelumnya gue udah pernah denger soal Schrödinger’s Cat, istilah Laplace’s Demon ini baru sekali gue dengeri di arcnya Koga ini.

Diawali dengan cerita Sakuta ga sengaja nguping adek kelasnya (Koga) yang ditembak cowok di pojokan tangga sekolah. Sepulang sekolah dan tidur malam seperti biasa, Sakuta bangun di hari yang sama. Yep, hari yang kemarin, terulang kembali!

Pikiran pertama gue saat muncul problem ini adalah OMG IT’S GROUNDHOG DAY!

Groundhog Day adalah sebuah film jadul yang premisnya berpusat di pengulangan hari yang sama bagi si tokoh utamanya. Premis ini dipake juga di beberapa film lainnya, salah satunya Happy Death Day.

Sakuta yang super bingung kenapa hari terulang dan kayaknya cuma dia yang nyadar kalo hari gak maju-maju, langsung curhat sama Futaba (yang sebenernya juga gak ngerti Sakuta ngomong apa karena menurut dia hari berjalan seperti biasa). Disinilah Futaba bilang kalo kemungkinan ada Laplace’s Demon yang menyebabkan keanehan yang dialami Sakuta, dan Sakuta harus nyari siapa demon-nya (karena waktu ditanya Futaba, Sakuta bilang bukan dia demon-nya).

Laplace’s Demon sendiri adalah sebuah teori yang ditelurkan oleh Pierre-Simon Laplace pada tahun 1814. Teori ini berkaitan banget dengan teori determinism, yang membahas mengenai kepastian segala sesuatu di alam semesta. Teori atau artikulasi Laplace’s Demon menyatakan bahwa jika seseorang bisa mengetahui letak dan momentum semua atom yang ada di alam semesta, maka dengan rumus fisika kuantum yang tepat orang tersebut dapat mengetahui masa depan dan mengulang masa lalunya. Bahwa semua sudah terkalkulasi dengan sempurna. Bahwa tidak ada free-will, karena pergerakan atom akan menentukan nasib seseorang, dan hal tersebut adalah suatu hal yang exact. Orang tersebut kemudian disebut dengan demon.

Analogi Futaba adalah, ada seorang Laplace’s Demon yang ingin mengubah outcome dari tindakannya, dan kekuatan keinginan tersebut membuatnya dapat mengulang hari untuk mendapatkan semua outcome yang mungkin terjadi dari yang dia lakukan, karena dia ingin mendapatkan outcome yang terbaik. Menurut Futaba, Sakuta harus mencari satu orang lain yang juga menyadari pengulangan hari seperti Sakuta. Berdasarkan hipotesa Futaba, orang itulah Laplace’s Demon yang menyebabkan fenomena Groundhog Day yang dialamu Sakuta.

Singkat cerita, Sakuta akhirnya menemukan bahwa Laplace’s Demon yang dimaksud Futaba dan menyebabkan fenomena pengulangan hari tersebut adalah Koga. Jadi ternyata, cowok yang nembak Koga adalah cowok yang juga ditaksir oleh sahabat Koga. Saking gak pengennya teman-temannya tau kalo cowok itu naksir Koga (katanya sih takut dikucilin), Koga pun mencoba segala cara untuk mencegah adegan penembakan itu terjadi. Menurut Koga, menolak cowok itu secara langsung tetep bakal merusak pertemanan Koga sama sahabatnya, jadi dia pengennya cowok itu gak nembak sama sekali.

Arc ini makin keruh saat Koga akhirnya minta Sakuta untuk pura-pura jadi pacarnya, supaya cowok itu urung niat buat nembak. Sakuta yang gak tega nolak, apes karena sempat hampir salah paham sama Mai. Untungnya kesalahpahaman gak berlangsung lama dan Mai bisa support aksi Sakuta buat bantu Koga. Berkat aksi pura-pura pacaran ini, hari bisa berlanjut dan fenomena Groundhog Day gak terulang lagi. Oho tapi ternyata gak sampai disitu.

Menjelang akhir arc, keapesan berikut dimulai saat Koga ternyata suka sama Sakuta, dan bikin fenomena Groundhog Day terjadi lagi di hari harusnya aksi pura-pura pacaran berakhir. Koga yang terlalu pengen bareng terus sama Sakuta (tapi denial), bikin hari tersebut terulang-ulang. Problem ini kemudian terselesaikan saat Sakuta berhasil ngebujuk Koga untuk mengakui perasaannya ke Sakuta dan menerima penolakan dari Sakuta. INTINYA SIH CLOSURE WKWK.

Itulah tadi dua pelajaran baru yang gue dapet setelah nonton Bunny Girl Senpai. This series is wicked and beautiful, mungkin berikutnya gue akan coba review serial ini secara keseluruhan, mumpung 2022 mau ada season 2 nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *