The Day I Found Out I Was Pregnant and Why I Kept It a Secret (Until Now)

Hai! Saat Anda membaca tulisan ini, kemungkinan besar kehamilan gue sudah masuk ke bulan ke sekian entah ke berapa, I haven’t decided yet on when to go public with the whole thing HE HE. Namun gue menulis ini di tanggal 3 Mei, 1 hari setelah gue ke dokter dan exactly 5 hari setelah gue pertama kali mengetahui kalo gue (ehem) hamil.

The Day I Found Out

I’ve been using some kind of period tracking app to track my menstruation cycle. I’ve been doing this since before I was married, because it’s efficient to predict when is the time to buy some pads.

Menurut aplikasi andalan gue, seharusnya gue menstruasi sekitar tanggal 23 April. Namun, sampai tanggal 25 April gue belum juga haid, and this is unusual karena haid gue hampir selalu tepat waktu. Tapi sebagai seseorang yang mengerti tentang field ini, gue juga paham kalo telat haid bisa diakibatkan oleh a zillion of things, other than pregnancy. So I was chilled, dingin-dingin empuk kaga jelas to be honest.

Tanggal 28 April, gue telat udah total 5 hari. This is weird. Gue berencana mau tes dengan testpack, tapi gue pikir… Ah biasanya orang baru tes kalo udah 7 hari kok, dan gue juga selalu menganjurkan orang yang telat haid untuk tes setelah 7 hari. Hari itu hari Sabtu, I remembered it clearly karena hari itu gue pergi ke Plaza Senayan bersama keluarga gue, termasuk bokap, nyokap, dan Iki untuk makan malam bersama di luar.

Tahun lalu, gue pernah juga terlambat haid kaya gini hingga sekitar 4-5 hari. I decided to do the testpack and it came out negative. I never told anyone not even my husband just because I didn’t think it was that important and was unnecessary. So I was planning to do the same this time. Gue menyelinap pas keluarga gue lagi makan untuk beli testpack ke drugstore di deket tempat gue makan, dan menyimpannya dengan rapi di tas gue.

Sampe rumah, my heart was racing. Gue dilema parah gajelas kenapa, kaya TES ENGGA TES ENGGA TES ENGGA idih. Gue tadinya berpikir untuk tes di hari Senin waktu suami gue ngantor, sehingga kalo negatif I could just keep it to myself, like last time. Dan kalo positif, I would have the chance to make it a surprise.

Terus gue pengen pipis.

Dan tergoda.

Gue ambil testpacknya, gue tampung pipisnya, terus gue celupin testpacknya. Kebetulan gue beli 2, NGGAK TAU KENAPA EMANGNYA SATU KAGAK CUKUP APA. Yang satu cuma 30 ribu, satunya 120ribuan. Gue pake yang 30 ribu.

well hello

Pas garis pertama keluar, yang ada di pikiran gue adalah “anjer lama banget nih barang nyerepnya” cause it felt like foreeeveeeerrrrrrr nungguin garis kedua nya nongol. Pas akhirnya garis kedua itu muncul, gue blank.

Beneran blank, gue ga drama. HE HE.

Gue kayak bingung gitu mau ngapain. Cebok belom, tangan kiri masih megang wadah isi pipis, mau minta konfirmasi tapi ga ada orang (ya iyalah masa di wc rame-rame, emangnya warnet).

Akhirnya gue naro wadahnya di lantai, nyuci testpacknya (sumpah gue gatau ini boleh apa engga, merusak hasil apa engga tapi jiji aja ga sih kalo mau dibawa-bawa masih ada kerak pipis gitu), dan cebok HE HE. Terus gue galau, mau cek lagi pake testpack yang mahalan.

Gue ambil tu testpack mahal, gue jongkok lagi. GA PENGEN PIPIS (ya orang baru aja gua pipisin semua jiwa raga gue tadi buat testpack pertama). Yaudah gajadi, galau berikutnya adalah, kasih tau Iki ngga? Atau tunggu sampai hari Senin?

Yaudahlah, kasihtau aja.

Gue pun berjalan ke kamar sambil rempong, masih bawa belanjaan (pas dari PS sampe rumah gue langsung pipis, belom ke kamar sama sekali), dan bawa testpack. Sampe depan kamar gue rusuh kresek kresek antara mau rapiin belanjaan sama ngumpetin testpack sebelum buka pintu. Eeeeh dasar suami gue sempurna baiknya, dia denger kalo gue rempes di depan pintu dan bukain pintunya buat gue disaat gue belom selesai beres-beres. Yaudah akhirnya gue masuk dan kasih liat testpacknya ke dia.

Reaksi dia cuma semacam *apaan nih* sebelum akhirnya menyadari itu apa, berdiri, meluk gue, terus ketawa-ketawa aneh gitu. Dia seneng banget, sampe ga lama terus nangis yang, mudah-mudahan sih, karena bahagia dan terharu.

Gue gimana? Jujur aja gue masih blank. Buat gue saat itu, bahkan hingga saat gue nulis ini, rasanya surreal banget. Gue pengen jadi ibu dan punya anak yang lucu-lucu, sure. Tapi saat itu kayaknya gue sadar, gue gak pernah benar-benar membayangkan gue akan mendapatkannya suatu hari.

Sampe hari ini masih surreal.

Why I Kept It a Secret

For those who doesn’t know, as for today I have been married for almost 2 years. Dan selama hampir 2 tahun itu, gue udah endure berbagai pertanyaan dan ceramah terkait hamil dan anak. Gue tidak pernah sama sekali menggunakan kontrasepsi dengan metode apapun, in case you’re wondering when you read this.

Setelah menikah, gue dan Iki memutuskan untuk membiarkan semuanya mengalir, termasuk punya anak. Gue sama Iki ngga bener-bener memprogramkan punya anak selama setahun pertama, baik mandiri maupun dengan bantuan dokter. Saat itu. gue sama Iki ngga pernah pre-marital check up ataupun tes kesehatan lainnya yang berkaitan dengan kesuburan, gue sama Iki cuma pengen berkeluarga -entah berdua atau bersekian.

Gue dan iki berencana konsultasi ke dokter dan ikut program perencanaan kehamilan kalau sampai akhir tahun pertama belum juga mendapatkannya secara natural. Bukan, bukan bayi tabung. Cuma program perencanaan dengan bimbingan dokter aja.

Selama setahun, gue sama Iki hidup berdua di apartemen, jauh dari orangtua. Gue banyak mengenal dia dan begitupun sebaliknya, paham kalo marah kayak apa, dan berusaha memahami bagaimana cara terbaik meredamkan satu sama lain. Tapi selama setahun itu juga, gue dan Iki belum dikaruniai anak.

Di tahun ke 2 pernikahan gue dan Iki, kita sempat ikut program selama 3 bulan sebelum akhirnya berhenti (karena pengen aja, bukan bosan atau lelah, it was fun kok). Ini pun ngga ada yang tau kecuali beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Kenapa? Alasannya sama dengan kenapa gue gak mau memberitahu orang-orang kalau gue hamil.

Kebiasaan warga masyarakat terutama orang Indonesia adalah basa-basi kelewat ikut campur macam nanya anak berbuntut ceramah panjang. Gue ga asing dengan skenario seperti berikut:

Sanak saudara (SS): udah isi?

Gue: belum

SS: KB?

Gue: engga

SS: iyaaa cepetan lhoo, jangan Kb nanti malah susah punya anak blablablabla

Ini selalu selalu dan selalu bikin gue ngga habis pikir. Gue udah bilang “engga” saat ditanya pake kontrasepsi atau nahan punya anak atau engga, yet gue tetep diceramahin seolah-olah gue melakukan hal tersebut. Yang mana kalopun iya, IT IS MY RIGHT AND NOBODY NOT EVEN MY PARENTS HAVE THE RIGHT TO JUDGE ME FOR WHATEVER I CHOSE TO DO WITH MY BODY AND FAMILY, apalagi orang laen. LU SIAPE?

Gak semua orang mau langsung punya anak setelah menikah, dan itu hak mereka. Gak semua orang BISA langsung punya anak setelah menikah, or EVER, and it’s okay too. Kalo gue nahan punya anak karena gue pengen jalan-jalan dulu, emang ngerugiin lo? Kalo ada orang nunda punya anak karena belum punya uang untuk ngerawatnya, emang lo mau bayarin? Gak usah ikut campur urusan orang kalo lo gak punya andil untuk bantu mereka juga. Gak semua orang suka ceramah, or bahkan input, apalagi ucapan yang menghakimi.

Gue mengalami hal ini selama hampir 2 tahun, dari mulai gue masih baper dan ga habis pikir tapi merasa masih harus “melayani” dengan sopan, sampe gue nggak peduli. Gue nggak peduli yang ngomong siapa, setua apa, ada keperluan apa, gue cuma akan jawab BELUM dan pergi. Bye. You don’t deserve my attention.

“Itu cuma basa-basi, cit.”

Good, gue gak suka basa-basi. So I’m saving not just my time, but your feelings from getting hurt, too. You should be thankful.

Kalo orang bilang “anak jaman sekarang cepet banget bapernya”, gausah munafik. Gue yakin orang-orang tua itu dulu juga baper, cuma norma membungkam mereka dari mengekspresikan perasaan tersebut. Bukannya gue gak sopan, cuma orang lain yang harus tau diri dan belajar untuk tidak menghakimi orang lain. Gausah bersembunyi di balik alasan “tapi niatnya baik”, kalian yang melakukan ini cuma para ignorant yang berpikir bisa bicara apa aja tanpa memikirkan perasaan orang lain yang kalian ajak bicara dengan menjunjung alasan “tapi niatnya baik” tersebut. You’re not a good person, you just think you are.

Inilah juga alasan kenapa gua enggan untuk memberi tahu orang-orang tentang kehamilan gue. Bahkan orangtua gue sendiri. Gue bahkan tadinya pikir-pikir mau ngasihtau Iki, tapi kan dia harus tau karena ini sebab perbuatan dia juga HE HE.

  1. Gue gak suka dengan the belly-touches. I’m not a people person so give me my personal 1×1 square metre space and stay away from my growing belly.
  2. If I need an advice from you, I will ask for it myself. Jadi gausah sibuk larang ini itu nyuruh ini itu apalagi maksa. Gue juga mau yang terbaik buat kehamilan gue kok.

Gue mau bahagia saat hamil. Gue gak mau stress apalagi sampe marah dan membenci karena gue tau there’s a person growing inside me that can feel it too. Dan gue rasa go public with this kind of thing is not an obligation. It’s just a formality and it’s an option for everyone. Ga ada yang berhak marah karena ini badan gue, not yours.

Selain itu, alasan lain adalah karena gue nggak tau apa yang akan terjadi. Kehamilan gue bisa aja lancar sampai saatnya melahirkan nanti, bisa aja gue sakit, atau manusia kecil ini yang sakit, atau apapun, gue nggaktau. Disaat ada hal-hal buruk yang terjadi, gue nggak butuh seantero massa untuk bertubi-tubi nanya dan apalagi mengasihani gue.

“Itu bentuk perhatian, cit.”

Well thank you, but I really don’t need the attention. Pada saat-saat seperti itu, tentu gue butuh berdamai dan mengangkat diri sendiri. Gue ga perlu orang-orang yang mengaku sedih untuk membebani gue.

Orang bilang makin banyak yang tau berarti makin banyak yang mendoakan. Oh come on. Gue percaya Tuhan, bukan percaya manusia. Berharap sama manusia cuma akan memberikan lo kekecewaan. Jadi kalo mau berdoa ya berdoa aja, yang khusyuk. Berharap dijabah entah dalam bentuk apa dari Tuhan, yang terbaik, probably. Gausah ngarep orang lain ngedoain lo. Kalo mereka mau mereka akan ngedoain, kalo engga ya engga. Terserah, bruh.. ini cuma pendapat pribadi gue aja.

Ya, jadi itulah cerita tentang kapan dan bagaimana gue mengetahui gue hamil, dan kenapa gue merahasiakannya. Gak semua orang setuju dengan apa yang gue tulis, pasti. Dan gue gak butuh orang untuk setuju. Badan kalian, urusan kalian, vice versa.

Thanks!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *