Pregnancy FAQ: USG 2D, 4D, dan Fetomaternal

Selamat pagiii, ini gue nulis pagi-pagi mumpung nggak ada kerjaan (udah cuti – YAY!). Sebenernya udah dari beberapa hari lalu pengen nulis tentang ini, tapi ketunda melulu.. Sekarang mumpung selo jadi kita sikat.

Kenapa bikin artikel ini? Awalnya adalah akibat gue tergabung dalam grup prenatal yoga yang isinya bumil-bumil qute nan curious. Grup ini isinya gak cuma sekedar sharing seputar yoga, tapi juga banyak seputar keluhan selama kehamilan atau bahkan saling rekomendasi dokter, jadi semacam support group juga gitu.

Nah selama beberapa saat gue gabung disini, gue notice ada beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan ulang oleh ibu-ibu di grup ini, dan banyak juga yang miskonsepsi atau punya pemahaman kurang tepat tentang beberapa hal. Untuk itu, gue mau coba angkat dan jawab beberapa frequently asked question di grup itu dan gue jawab disini..

USG 2D dan 4D

Oke, kalo bedanya USG 2D dan 4D pasti udah pada tau lah. Sebagai seorang medical writer, gue pun pernah menulis tentang ini dan bisa dibaca disini untuk penjelasan lebih “teknis” dan “formal”. Tapi secara sederhana, intinya perbedaannya adalah: alatnya, tujuannya, dan hasilnya.

Alatnya yang dipake uda jelas beda, ga semua RS bahkan RSB atau RSIA pun punya alat USG 4D. Tujuan masing-masing pemeriksaan pun berbeda. Mau liat muka? Pake 4D. Mau liat ruangan jantung? Pake 2D. Daaan lain-lain. Kemudian hasilnya pun jelas berbeda, ya tetep sama-sama item putih, cuma yang satu flat yang satu real time dan ada kedalamannya (if you know what I mean..).

USG 4D, harus?

Jawabannya simpel: enggak. USG 2D pun sebenernya gak harus setiap kontrol, coba aja cek di pelayanan standar kebidanan di luar negeri, gak ada tuh mereka setiap kontrol kehamilan dimanja cek 2D kayak di Indonesia. Kehamilan normal kan bisa dilayani di Puskesmas, dan alat USG bukan merupakan ketersediaan yang standar di layanan primer – meski sekarang udah banyak yang menyediakan.

Begitupun dengan USG 4D. Hakikatnya USG 4D dilakukan jika ada indikasi, misalnya kehamilan berisiko, “anak mahal”, atau ada temuan saat USG 2D yang perlu dikonfirmasi lebih lanjut dengan pemeriksaan yang kebih advance. Intinya, kalo harus atau engga, jawabannya enggak. Tapi boleh ngga? Ya boleh aja juga, ga ada larangan.

Kapan sebaiknya USG 4D

Balik lagi, tergantung kebutuhan. Tujuannya apa? Kalo mau lihat wajah, ya mesti nunggu sampe wajahnya terbentuk dong, jadi di sekitar awal trimester 3 atau masuk minggu ke 28 gitu akan lebih convenient. Atau ada kelainan fisik tertentu yang mau dicek dengan pemeriksaan ini? Nah, itu beda lagi. Jadi sebenernya ngga ada so-called “standard” untuk “kapan USG 4D” karena sejatinya dilakukan sesuai tujuan pemeriksaan.

Apa sih Fetomaternal?

Ini nih juga banyak ditanyain. Buat bumil yang awam, kebayang sih mungkin dengan banyaknya informasi dan rasa FOMO (fear of missing out), serta tentunya keinginan memberikan yang terbaik buat anak pasti jadi agak panik.

Pemeriksaan fetomaternal itu intinya adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh seorang dokter spesialis kandungan dan kebidanan SUBSPESIALIS fetomaternal. Yak, jadi fetomaternal itu intinya adalah kekhususan ilmu dalam departemen kebidanan dan kandungan yang lebih dalam mempelajari tentang kondisi janin (fetus) dalam kehamilan (maternal). Jadi ada dokter Sp.OG dan ada Sp.OG KFM yang artinya konsulen fetomaternal <– nambah sekolah lagi gitu..

Harus gak pemeriksaan Feto? Kapan?

Nah ini, yang suka jadi ladang hoax dan bikin panik. Gue bantu kasih pemahaman sederhana sekali lagi.. Pada kehamilan normal aja, bisa dihandle bidan dan mungkin aja gak perlu bahkan cek ke SPOG sama sekali. Sama halnya dengan pemeriksaan ke konsulen fetomaternal. Kalau ngga ada anjuran atau indikasi untuk kesana, ya nggak diperiksa nggak apa-apa.

Jadi jawaban harus apa engga clear ya: engga. Tapi boleh ngga? Ya boleh aja, duit kan duit situ HE HE HE.

Kapan dong periksanya? Gue pribadi, gak ada niatan tadinya untuk periksa ke konsulen feto. Tapi dokter SPOG gue rujuk gue ke feto karena ada temuan di USG 2D gue, yaitu si kupit kepalanya kok gede banget dan gak bulet. Jadi, dirujuk lah gue ke dr. Damar Sp.OG KFM di RSIA Brawijaya untuk konfirmasi.

Kalau gak ada indikasi, agak bingung sebenernya jawab kapan sebaiknya periksa ke konsulen Feto – asli, ga ada standarnya. Tapi kalau ibu menyadari bahwa kehamilannya berisiko, misalnya hamil di usia tua, ada riwayat keguguran, ada riwayat kelainan di keluarga atau di anak sebelumnya (kalau bukan kehamilan pertama), atau ibu ada penyakit penyerta atau gaya hidup kurang sehat, bisa periksa mulai usia kehamilan 3 bulan.

Tapi sebenernya.. Kalau emang kehamilan berisiko biasanya dokter SPOGnya pun udah otomatis menganjurkan atau bahkan merujuk ke konsulen feto kok, jadi no worries.

USG 4D = cek feto?

Nah ini juga sering salah paham nih. Pemeriksaan fetomaternal itu gak melulu pakai USG 4D loh. Balik lagi apa yang diperiksa. Pemeriksaan fetomaternal intinya memeriksa lebih detail kondisi janin dalam kandungan, gimana otaknya? Ruang jantungnya? Tulang belakangnya? Ginjalnya? Dan organ-organ ini justru keliatannya pake USG 2D lho bukan pake USG 4D. Jadi bukan karena pemeriksaannya “terkesan” lebih advance terus jadi sakti bisa periksa segala macem. Emang kedua modalitas ini beda fungsi dan tujuan penggunaannya.

Kalau cuma sekedar USG 4D untuk lihat wajah anak (kyaa pengen liat, mirip ibunya, bapaknya, apa tukang bubur depan gang?) itu dokter SPOG aja juga bisa kok periksa, ga harus konsulen feto.

Jadi, bedakan ya.. Mau USG 4D apa mau konsultasi ke fetomaternal?

Akhir kata

Pada intinya, ibu-ibu ga perlu “takut ketinggalan” dan kebawa hedon dengan berbagai pemeriksaan ekstra. Niscaya, baik bidan, SPOG, atau subspesialis udah paham kompetensinya masing-masing dan tau kapan harus rujuk ke atas untuk pemeriksaan dan penanganan yang lebih kompleks. Lakuin aja sesuai kebutuhan.. Kalo ada kocek lebih bolehlah lakukan pemeriksaan “ekstra” diluar pemeriksaan rutin. Tapi gak perlu maksa, pahami mana yang “harus” dan mana yang “boleh”. Jangan sampe gara-gara kelewat FOMO, duit buat lahiran jadi kurang 10ribu.. Hiks

Sementara itu aja, kalau ada pertanyaan tambahan boleh loh, selama sifatnya gak spesialistik banget dan masih bisa gue bantu jawab atau gue bantu tanya ke ahlinya, pasti akan gue fasilitasi.

Thanks for reading dan semoga membantu!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *