Automatic Writing: Tukang Nasi Goreng

Terkadang kita lupa siapa kita. Tukang nasi goreng lewat dan hanya lewat begitu saja. Siapa kita di dunia? Berpikir cepat tanpa mempedulikan kehidupan yang lewat begitu saja. Seperti tukang nasi goreng tadi. Orang bilang hidup adalah apa yang terjadi saat kita sedang sibuk membuat rencana lain. Tapi untuk apa sebenarnya manusia membuat rencana? Jika ternyata itu hanya membuang-buang waktu saja. Kehidupan lewat begitu saja. Seperti tukang nasi goreng.

Tukang nasi goreng pakai gerobak.

Beritahu aku bagaimana cara mencari cara yang tepat melewati masa kita di dunia. Begitu banyak pertanyaan dan terkadang tidak tau mau ditanyakan kepada siapa. Kepada kamu? Kepada orang lain? Kepada diri sendiri. Sedang apa sih sebenarnya disini, kalau hanya membuang waktu saja. Melihat dan memperhatikan orang lain melewati hidupnya yang tampaknya bagus-bagus saja. Dari luar sih. Tidak tahu aslinya seperti apa. Mungkin seperti saya juga. Seperti ini, sibuk membuat rencana lain selagi kehidupan berlalu begitu saja.

Rambut tumbuh. Kuku menjadi panjang. Badan bertambah lebar dan mata semakin sayu. Itu saja yang tampaknya konstan terjadi tanpa intervensi. Badan lebar bisa sih diintervensi dengan olahraga, tapi kuku panjang? Rambut tumbuh? Dipotong? Tapi kan tidak bisa dihentikan. Seperti itu kah penggambaran kehidupan yang terus saja lewat seperti tukang nasi goreng?

Terkadang kita lupa kita siapa.

Terlalu jauh berjalan, terlalu banyak melihat. Terlalu sering mendengar dan terlalu cerewet berbicara. Hingga lupa awalnya tadi sedang apa dimana. Dan kapan. Kapan? pertanyaan yang paling menyebalkan. Kapan kamu pertama kali bisa melihat? Kapan kamu pertama kali bisa berbicara? Kapan kamu pertama kali bisa berjalan? Ingat tidak? Kapan kamu pertama kali bisa mengingat? Ingatan apa yang pertama kali kamu simpan? Yang mana?

Siklusnya mungkin begitu, peristiwa yang terjadi sebelum kita bisa mengingat, diingat oleh orangtua kita. Lalu nanti, kita akan mengingat semua peristiwa tentang anak kita. Sejak dia belum bisa mengingat, melihat, mendengar, berbicara, berjalan.

Kehidupan lewat begitu saja, saat kamu sedang sibuk membuat rencana lain.

Mungkin seharusnya memang tidak usah mempedulikan arti hidup ya. Terus saja membuat rencana. Mungkin ya itu hidupnya. Membuat rencana dan terus membuat rencana lalu membuat rencana lagi. Sampai bosan. Ada ya orang yang bosan membuat rencana? Manusia kan membuat rencana tanpa disadari. Biasanya. Ya yang disadari yang disebut saat “aku sedang membuat rencana”, tapi diluar itu sepertinya manusia konstan membuat rencana. Seperti kuku yang terus tumbuh panjang. Tidak ada yang perintah dia supaya terus bertumbuh panjang. Terus saja tumbuh, seenaknya sendiri. Seperti tukang nasi goreng yang tadi lewat, ya lewat saja dia seenaknya sendiri. Mungkin pakai rencana, mungkin tidak, asal jalan saja tau-tau lewat dekat sini. Sampai ikut masuk ke tulisan ini. Memangnya aku merencanakan tukang nasi goreng itu untuk kuketik disini? Kan tidak. Tau-tau waktu lagi ingin mengetik, lewat tukang nasi goreng. Kebetulan kosmis.

Yang tidak jelas Menguntungkan siapa.

Mungkin menguntungkan saya sih, Soalnya jadi bisa panjang begini gara-gara tukang nasi goreng. Terima kasih ya tukang nasi goreng.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *