Automatic Writing: Dia yang Terantuk Meja

Seorang biasa terantuk meja disebelahnya. Biar saja dia terantuk terus begitu iya terus saja begitu. Kelamnya malam menelan semua pikiran yang muncul, bagaimana cara tenangkan diri? Dia hanya seorang biasa yang maju terus dan maju iya terus saja maju begitu. Terantuk meja dan kemudian terantuk lagi. Bosan? Mungkin. Tapi dia tak menoleh dan membiarkan angin meniup rambutnya dan kemudian membiarkan angin itu pergi dengan tenang. Ketenangan adalah sesuatu yang mahal. Rupanya. Tidak ada yang bisa membeli ketenangan.

Pusaran ombak menelannya. Burung burung muncul silih berganti menggantikan kebisingan gedung bercahaya tinggi di sekitarnya. Pergi terus pergi terus maju dan ya terus maju begitu. Seorang yang biasa saja berkelana di tengah sesaknya bumi pijakan manusia.

Mimpi dia bermimpi. Tidak sabar menanti esok, Apakah esok benar akan datang? Dia mencari siapa yang bisa meyakinkannya bahwa esok akan selalu ada untuknya. Dia rupanya tidak peduli dengan kemarin ataupun esok. Yang penting baginya adalah sekarang. Sekarang dan terantuk meja.

Mulutnya mengucap kata, telinganya mendengar lara, hatinya mendesir sirna. Cahaya datang menembus kepingan pikiran otaknya yang membaur menjauh. Jangan pergi, katanya. Jangan pergi meninggalkanku dalam kelamnya malam. Kelamnya malam, hitamnya siang, dan gaduhnya subuh. Ya, baginya subuh itu gaduh. Menelan derak demi derak kopi, subuh gaduh baginya. Dia lelah rupanya terantuk meja. Dia merindu belaian halus bantalan rumput yang luas.

Mengapa begini? Dia bertanya, dia tak tahu bertanya pada siapa. Dia tidak yakin ingin mendengar jawaban atau hanya ingin mengucapkannya saja. Dia rindu kamu, sang tenang. Biarkan dia tenang, kumohon. Oh? Bermandikan sejuta resapan rembulan, seharusnya tidak begini. Rasa kopi seharusnya tidak begini. Aku dan dia terpana.

Yang ditunggu tak juga kembang, bunga yang ditunggu tak juga mekar. Matahari yang ditunggu tak juga terbit. Dunia ini kemudian bercabang di dalam pusaran inti tubuhnya. Dia termangu. Apa yang dia lakukan disini? Kemana meja itu pergi? Aku hanya memandangnya dari kejauhan, di sudut yang gelap remang terang entahlah sudah tidak terlihat lagi.

Aliran deras kata kemudian mengalir lagi dari hatinya. Atau otaknya, tidak ada yang tahu. Dunia hanya bisa mendengar tanpa berani bertanya darimana asalnya kalimat kalimat itu lahir. Dia terus bercabang, membelah realitasnya sendiri hingga berjumlah tidak terbatas. Aku bimbang. Dia lelah, aku tau dia lelah. Biarkan dia.

Biarkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *