Anak Kolong dan Sedikit Tentang Denjaka

DISCLAIMER: tulisan ini tidak bermuatan politik.

Setelah Pak Jokowi dan Pak Moeldoko mengumumkan dibentuknya KOOPSSUSGAB merespon terjadinya beberapa kejadian bom bunuh diri, ada pro dan kontra. Ada yang bilang ini cuma buang-buang duit negara, menghadapi teroris tak perlulah keterlibatan TNI. Ada juga yang setuju, mendukung, bahkan tersulut semangatnya.

Gue disini bukan mau menyatakan dukung atau tidak (YA UDAH PASTILAH DUKUNG, ORANG GUA ANAK PENSIUNAN TENTARA). Disini gue lebih ke mau curhat, tentang kehidupan masa kecil gue sebagai seorang anak kolong marinir angkatan laut. Disini juga gue sedikit mau berbagi, tentang pasukan khusus di Indonesia karena tak kenal, maka tak sayang.

Astrid Wulan si Anak Kolong

Sejak lahir sampai kelas 3 SD, gue tinggal di dalam salah satu kompleks perumahan TNI di Jakarta Selatan. Waktu itu, bapak gue adalah seorang angkatan laut yang masih aktif meskipun bertugas di darat dan bukan di laut (dulu, anak tentara sering disebut anak kolong, nggak tau kalo sekarang). Jenjang TK dan SD pun gue tempuh di dalam kompleks, sehingga ada yang sedikit berbeda dari masa sekolah gue saat itu dengan kebanyakan anak lainnya.

Sekolah

Karena TK dan SD gue adalah sekolah angkatan laut, isinya mayoritas bukan anak orang berada. Kalo gak anak tentara, ya anak guru atau anak lingkungan sekitar kompleks. Mata pelajarannya sih sama aja, meski ada satu yang berbeda dan masih gue inget sampai sekarang.

Pernah denger mata pelajaran Kebaharian? Gue yakin kalau kalian sekolah di sekolah negeri atau swasta pada umumnya, gak kenal pelajaran ini. Ini satu mata pelajaran yang isinya cuma belajar tentang laut dan tetek bengeknya, mulai dari jenis ikan, penggolongan wilayah pantai dan laut, berbagai jenis angin, jenis kapal laut, sampai tali temali kapal.

Iya, di kelas 3 SD gue udah belajar tali temali dan simpul yang biasa dipake di kapal laut.

Iya, dari SD gue udah bisa bedain kapal tongkang sama hopper tongkang.

Karya wisata di sekolah gue pun sedikit berbeda. Gue inget, gue pernah menjadi salah satu siswa terpilih untuk tampil bersama siswa sekolah dasar angkatan laut lainnya untuk semacam acara perayaan ulangtahun TNI AL.

Saat itu, gue dan teman-teman berangkat naik bis yang biasa dipake orang komplek, ga ada AC dan jendelanya gakbisa dibuka. Sampe lokasi, snack yang kita dapet juga bukan jajan pasar seperti pada umumnya, tapi sebungkus roti kabin dan air mineral gelas.

Gaktau roti kabin?

Roti kabin sebenernya banyak dijual di pasaran, cuma yang waktu itu gue dapet adalah roti kabin produksian khusus buat angkatan laut itu sendiri. Ini semacam biskuit, yang mekanismenya lo makan terus kalo lo minum air, nanti biskuitnya kaya ngembang gitu di perut jadi makan 1 bisa kenyang sebulan (ini lebay, tapi beneran kenyang).

Kabin Komando

foto ngambil dari kaskus

Kabin Komando

meningkatkan gizi prajurit

Pergaulan Anak Komplek

Masa kecil gue nggak seseru abang-abang gue yang laki-laki dan merasakan sampai usia remaja dewasa di dalem komplek. Sebagai anak perempuan terakhir satu-satunya, bapak gue jarang ngebolehin gue pergi main apalagi kalo udah sore sama anak-anak tetangga gue.

Cuma, yang namanya kompleks TNI bisa dibilang sebagian besar aman. Rumah gue nggak ada pagarnya dan gue bisa keliaran bebas keluar masuk rumah tetangga cuma pake kaos kutang doang. Gue bahkan pernah atas nama kepolosan, ngangkat telpon di rumah tetangga pas telponnya bunyi, dan bilang kalo orang rumahnya ga ada (padahal mah ada).

Rumah dan Keluarga

Besar punya bapak tentara, tentu masa kecil gue seneng-seneng enggak. Bapak gue galak, banget. Bahkan semua sepupu dan teman-teman sekolah gue pada tau. Bapak gue termasuk orang yang memberi hukuman fisik (ditambah mental), nggak peduli anaknya laki-laki atau perempuan.

Image may contain: one or more people

ini bapakku

Nggak hanya galak ke dalam, bapak gue juga galak ke luar. Berkat beliau, gue selalu menganggap angkatan laut itu versi paling ngeri dari semua angkatan TNI. Bapak gue ini termasuk orang yang bisa “pukul gak pake tanya”. Bisa mukulin maling kandang burung (yang mana gak ada burungnya juga.. kosong) sampe dilempar ke dalem kali, dan bisa nendangin mobil orang yang nyerempet mobil dia sampe penyok tanpa bilang apa-apa.

Satu cerita lucu (sekarang sih lucu, dulu kayaknya melanggar HAM HE HE) yang selalu gue inget pas gue kecil adalah nyokap gue pernah cerita. Waktu gue masih kecil banget belum bisa ngomong, gue pernah nangis malem-malem dan gakmau diem, sampe nyokap gue harus bawa gue keluar kamar untuk mencoba nenangin gue. Tak disangka tak dinyana, bokap gue tiba-tiba keluar kamar bawa senapan angin dan bentak gue supaya gue diem, dengan ancaman mau dia tembak kalo gak diem juga.

TENTU ITU HANYA ANCAMAN GAES TIDAK ADA KORBAN JATUH PADA MALAM ITU.

….karena untungnya gue langsung diem. Cheers.

Nyokap gue sampe bilang, kehebatan gue sejak kecil sampai sekarang adalah “air mata bisa naik masuk lagi ke mata”, karena sejak kecil kalo dimarahin bapak gue dan gue atau abang-abang gue malah nangis, yang ada tambah didamprat. Jadi mending gak usah nangis aja lah..

Banyak cerita lucu yang sedep-sedep-perih tentang masa kecil gue dan abang-abang gue yang bisa panjang kalo diceritain semua, I’ll save it for some other time. Tapi intinya, pendidikan keras dari bokap gue ini membuat gue percaya bahwa ya negara gue ini dilindungi oleh beratus bahkan mungkin beribu orang yang seserem atau bahkan lebih serem daripada bapak gue, bahkan ke anaknya sendiri. Apalagi ke orang lain? No worries.

Pengetahuan tentang Kemiliteran di Indonesia

Punya bapak tentara, tentu mempengaruhi pandangan gue tentang militer Indonesia dong. Gue dulu (dan sampai sekarang) menganggap “tentara tuh keren ya”. Bapak gue ini juga kayaknya emang udah bakat ribut sejak muda, gimana dia pernah cerita kalo tawuran di saat anak sekolah pada umumnya bawa gir (gear), pentung, ato pisau, bokap gue ke pasar beli buntut pari dan dibawa buat tawuran. KALIAN TAU KAN KALO BUNTUT PARI ITU BERACUN DAN BISA BIKIN MENINGGAL?

Bapak gue juga banyak sharing, terutama tentang berbagai pasukan khusus di angkatan laut Indonesia. Salah satunya Denjaka, yang merupakan bagian dari tim gabungan yang dibentuk sama Pak Jokowi dan Pak Moeldoko itu.

Detasemen Jala Mangkara – DENJAKA

Sebagai awal, ijinkan gue mengapresiasi kerennya nama-nama berbagai pasukan dan tim serta slogan di TNI kita. Pakai bahasa sansekerta, otentik gitu, kayaknya.

Tak kenal maka tak sayang, mereka yang meragukan kemampuan TNI mungkin belum pernah berada dekat dengan lingkup itu sendiri. Mereka yang bilang pembentukan tim khusus untuk menghadapi teror hanya buang-buang uang juga mungkin lupa kalo pembentukan pansus KPK dan pergantian rumah dinas anggota DPR menjadi berupa uang JUGA PAKAI UANG RAKYAT. Mereka yang takut akan terbentuknya tim ini juga mungkin ketuker, bahwa tim ini dibentuk untuk “memukul” teroris, bukan “memukul” agama tertentu.

Balik lagi ke Denjaka. Selain Denjaka, tentu ada beberapa pasukan dan satuan andalan lain baik yang terpilih maupun tidak untuk tim KOOPSSUSGAB (namanya ribet kaya ujian masuk universitas) ini. Sebutlah Kopaskas, Kopassus, Denbravo, Gultor, Densus 88, dan lain-lain. Sebelum masuk ke Denjaka pun, angkatan laut punya Kopaska (Komando Pasukan Katak) dan Taifib (Intai Amfibi) yang kemampuannya sudah jelas di atas rata-rata berkat seleksi yang sulit dan ketat. Seketat kondisi keuanganmu.

Bapak gue, selalu mengelu-elukan ketiga pasukan tersebut; Kopaska, Taifib, dan Denjaka. Gue pun yang mendengarnya juga jadi kagum, “tentara kita keren dan diakui dunia”. Bapak gue dengan bersemangat menjelaskan ke gue (tanpa gue tanya.. bagi dia ini obrolan biasa aja di meja makan) apa bedanya, kapan angkatan darat turun dan kapan angkatan laut turun, apa kelebihan masing-masing, dan lain-lain.

Gue sendiri cukup bersyukur, gue pernah 2x merasakan berada di dalam lingkungan tinggal dan latihan angkatan darat, 1x saat SMP dan 1x saat SMA (terima kasih Labschool huft). Waktu itu sih terasa neraka, tapi pas udah selesai ya dibuat cerita lucu-lucuan aja. Gue jadi tau rasanya bepergian jauh naik tronton. Gimana rasanya harus makan pake alat makan yang terbuat dari seng (disana disebutnya “ompreng”) TAPI GAK BOLEH BUNYI (ya gimana, sendok kena piring aja bunyi PRENG gitu), dan harus dijemur baris berbaris harus nyanyi-nyanyi di “lapangan hitam” siang-siang yang sejauh mata memandang isinya cuma ASPAL SIANG BOLONG MENGUAP MEMBARA.

Serius deh tentara tuh hobi banget nyanyi. Bangun tidur nyanyi, mau makan nyanyi, lagi lari nyanyi, duduk nyanyi, mau tidur nyanyi dulu. Katanya sih biar semangat.

Pengalaman tersebut, membuat gue yakin kalo cerita-cerita orang tentang kerasnya latihan pasukan-pasukan khusus ini tu ya emang beneran sekeras itu. SEKERAS ITU. Dari mulai “hellweek” yang bisa dimulai kapan aja tiba-tiba, sampe harus bisa berenang nyeberang selat madura gak pake alat bantu (kecuali baju renang atau baju selam, mungkin?). Harus bisa tawar-menawar saat perang urat atau Psywar, sampe berenang dalam kondisi kaki tangan diikat kalo-kalo ditahan musuh.

Denjaka sendiri, berisi orang-orang dengan “ilmu” gabungan dari Kopaska dan Taifib, yang berarti mereka mahir bertempur di darat, laut, bahkan udara. Bisa berenang, bisa menyelam, bisa menembak, dan bisa turun vertikal dari bantuan udara. Opo ndak edan, gaes.

Sebagai ilustrasi, ada yang bilang kemampuan 1 orang Kopaska setara dengan 3 orang Kopassus. Sedangkan kemampuan 1 orang Denjaka, setara dengan bahkan 120 orang tentara rata-rata. Lagi, opo ndak edan, gaes. Gue sih yakin ini anggota Denjaka kalo dibikin kesel sama orang gakpake nanya, langsung gampar.

Mereka yang kata bapak gue bahkan merupakan satu-satunya tim di angkatan laut yang diperbolehkan memakai dan dibekali dengan unit kapal selam perorangan (iya, kita punya kok) ini bahkan bisa:

  1. Menjinakkan ranjau..
  2. ..di kolong kapal..
  3. ..sambil menyelam..
  4. ..di bawah laut.

Kalo Taifib punya semboyan “datang senyap dan pergi senyap” (layaknya ninja dan teman yang banyak hutang), Denjaka punya semboyan “tak ada rintangan yang tak dapat dilalui” – dengan perpanjangan “kalau takut mati, mati saja”. Plis.

Gue tidak menyertakan gambar maupun foto terkait pasukan khusus ini, karena sepaham gue pasukan elite (di Indonesia terutama dalam konteks tulisan ini) tidak banyak dipublikasikan di media mainstream. Jadi, gue takut kalo gue googling gambarnya, bisa-bisa yang muncul beda konteks dan gue malah jadi penyebar berita tidak akurat HE HE. Cuma seinget gue kata bapak gue, Denjaka itu berbaju hitam dengan baret ungu, dan seringkali memakai semacam topeng/buff bergambar tengkorak disertai kacamata hitam agar tidak mudah diidentifikasi.

Pada akhirnya, dengan tulisan ini gue berharap bisa menumbuhkan kecintaan kalian yang baca terhadap negara kita beserta aparatnya (TNI, dalam hal ini, karena gue gaktau banyak tentang Polri jadi gue gakbisa komentar atau nulis tentang mereka). Para anggota TNI ini juga beragama kok sebagai WNI, meskipun belum tentu seagama sama kalian. Mereka melindungi negara ini dan kalian bukan karena kepercayaan kalian, tapi karena kalian tinggal dan hidup di atas tanah Indonesia. Jadi yaudahlah, kepo boleh, tapi jangan membenci sebelum waktunya. Kalo gaktau ya kenalan, tapi jangan tengil – ntar kena gampar.

3 thoughts on “Anak Kolong dan Sedikit Tentang Denjaka”

  1. Bagus euy ceritanya. Keren juga air matanya bisa masuk ke mata lagi. 😂
    Galaknya tentara memang gak bisa dipungkiri. Tapi memang harus begitu. Terbukti kalau TNI memang diakui dunia, apalagi juara AARM terus, yang terbaru tahun 2018 ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *